Kamis, 15 Juli 2010

BUDIDAYA TANAMAN OBAT

Keragaman jenis tanaman obat mulai dari jenis tanaman dataran rendah sampai tanaman

dataran tinggi menuntut penyesuaian lingkungan untuk kegiatan budidaya tanaman tersebut.

Setiap jenis tanaman obat membutuhkan kondisi lingkungan tertentu agar dapat tumbuh dan

berkembang dengan optimal.

Lingkungan pertumbuhan yang dimaksud meliputi iklim dan tanah. Beberapa unsur iklim

seperti suhu, curah hujan dan penyinaran matahari secara langsung berpengaruh bagi

pertumbuhan tanaman. Setiap tanaman obat membutuhkan suhu udara yang sesuai agar proses

metabolisme dapat berjalan baik, sedangkan suhu tanah akan mempengaruhi proses

perkecambahan benih. Suhu tanah yang terlalu rendah dapat menghambat proses

perkecambahan, sedangkan suhu tanah yang terlalu tinggi dapat mematikan embrio yang terdapat

pada biji.

Tanaman obat-obatan membutuhkan curah hujan yang cukup dengan distribusi yang

merata. Ketersediaan air merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya tanaman

obat. Apabila jumlah curah hujan tidak dapat memenuhi kebutuhan air bagi tanaman obat maka

harus dilakukan penyiraman atau pengairan melalui irigasi.

Penyinaran matahari juga sangat penting pada budidaya tanaman obat. Sudut dan arah

datangnya sinar matahari, lama penyinaran dan kualitas sinar merupakan faktor-faktor yang

mempengaruhi proses fotosintesis pada tanaman obat. Jumlah radiasi matahari yang tidak

optimal akan menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi tanaman obat. Beberapa

jenis tanaman obat membutuhkan pelindung untuk mengurangi jumlah radiasi matahari yang

diterima, tetapi jenis tanaman obat lainnya membutuhkan jumlah radiasi matahari maksimal

untuk berfotosintesis.

Unsur-unsur iklim lain seperti kelembaban, angin dan keawanan juga perlu diperhatikan

dan disesuaikan dengan kebutuhkan tanaman obat yang akan dibudidayakan.

Kesuburan tanah tempat bercocok tanam tanaman obat juga merupakan penentu

keberhasilan budidaya tanaman obat tersebut. Kesuburan tanah yang harus diperhatikan meliputi

kesuburan fisik, kimia dan biologi. Tanah sebaiknya memiliki perbandingan fraksi liat, lempung

dan pasir yang seimbang, gembur, kandungan bahan organik tinggi, aerase dan drainase baik,

memiliki kandungan hara yang tinggi, pH tanah cenderung netral antara 6,0 – 7,0.

Persiapan dan Pengolahan Tanah

Tanah merupakan medium alam untuk pertumbuhan tanaman. Tanah menyediakan unsurunsur

hara yang merupakan makanan bagi tanaman. Pada budidaya tanaman obat persiapan

lahan dan pengolahan lahan harus menjadi perhatian pertama.

Lokasi penanaman penting diperhatikan karena berkaitan langsung dengan lingkungan

tumbuh tanaman yaitu iklim dan kondisi lahan. Ketinggian tempat sangat mempengaruhi iklim

setempat seperti suhu, curah hujan, kelembaban, penyinaran matahari, dan angin. Kemiringan

lahan juga menentukan teknik pengolahan tanah dan teknik budidaya tanaman.

Setiap jenis tanaman obat membutuhkan kondisi tanah tertentu agar dapat tumbuh dan

berkembang optimal. Kondisi tanah yang harus diperhatikan meliputi kesuburan fisik tanah

(struktur, tekstur, konsistensi, porositas, suhu tanah, aerase dan drainase tanah), kesuburan kimia

(ketersediaan hara, kapasitas tukar kation, pH tanah), kesuburan biologi (aktivitas

mikroorganisme tanah dan bahan organik tanah). Kesuburan tanah harus selalu dipertahankan.

Setelah ditentukan lokasi penanaman dan jenis tanah yang sesuai untuk budidaya

tanaman obat selanjutnya dapat dilakukan kegiatan persiapan dan pengolahan tanah. Persiapan

dan pengolahan tanah bertujuan untuk :

1 Membuat kondisi fisik tanah menjadi lebih gembur, meningkatkan porositas

tanah,memperbaiki aerase dan drainase tanah.

2 Membersihkan lahan dari gulma, semak, sisa-sisa tanaman, dan batu-batuan yang dapat

mengganggu pertumbuhan tanaman.

3 Pada areal penanaman yang terletak di lereng bukit atau pegunungan sebaiknya dibuat

teras untuk mencegah erosi dan mempermudah pemeliharaan tanaman.

Teknik persiapan dan pengolahan tanah ditentukan oleh jenis tanaman obat yang akan

dibudidayakan dan kondisi awal lahan tersebut. Secara umum tahapan pengolahan tanah adalah :

1 Pembersihan lahan dari gulma, sisa-sisa tanaman, dan batu-batuan.

2 Pembajakan yaitu membalik tanah dengan menggunakan bajak atau traktor

3 Penggaruan yaitu menghancurkan gumpalan tanah yang besar sehingga menjadi lebih

halus dan merata. Pada partikel tanah yang lebih kecil maka hubungan antara partikel tanah

dengan akar tanaman akan lebih luas dan akar akan lebih mudah mendapatkan zat hara yang

dibutuhkan. Tanah yang lebih porous akan membuat lingkungan perakaran yang lebih baik

terutama untuk tanaman obat yang memiliki rhizome/rimpang dan tanaman obat berakar dangkal

dan kecil. Kondisi fisik tanah yang baik juga akan meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah

yang dapat membantu meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman dan mempercepat

dekomposisi bahan organik.

4 Pembuatan bedengan. Beberapa jenis tanaman obat sebaiknya dibudidayakan pada

bedengan-bedengan terutama untuk jenis tanaman semusim atau tanaman berbentuk perdu dan

memiliki habitus kecil yang relatif tidak tahan air yang tergenang seperti pegagan, memiran,

daun dewa, temu-temuan. Sedangkan untuk tanaman obat tahunan seperti kayu manis, mahkota

dewa, kina, dan pala tidak membutuhkan bedengan untuk tempat tumbuhnya.

Bedengan dibentuk dengan cara menimbun tanah atau meninggikan permukaan tanah

dari hasil galian parit sebagai batas bedengan. Bedengan sebaiknya dibuat memanjang dengan

arah timur – barat. Panjang dan lebar bedengan dibuat sesuai dengan kebutuhan. Jarak antar

bedengan yang merupakan saluran air juga dapat digunakan untuk berjalan pada saat

pemeliharaan. Saluran air berfungsi untuk menghindarkan tergenangnya air pada saat musim

hujan (Syukur dan Hernani, 2001).

Lubang-lubang tanam dan alur-alur tanam dibuat pada bedengan. Jarak tanam dibuat

sesuai jenis tanaman dan tingkat kesuburan tanah. Ukuran lubang tanam disesuaikan dengan

jenis tanaman dan jenis bibit yang telah disiapkan. Pada waktu penggalian lubang tanam

sebaiknya tanah topsoil dan subsoil dipisahkan, sebaiknya tanah galian tersebut dicampur dengan

pupuk kandang atau kompos yang dosisnya tergantung jenis tanaman dan jarak tanam.

Pada tanaman yang membutuhkan tegakan, seperti sirih dan lada dapat ditanam panjatan

atau tegakan. Panjatan atau tegakan dapat berupa panjatan mati atau tanaman hidup. Tiang

panjatan dapat dipasang kira-kira 10 cm dari lubang tanam. Apabila dipakai panjatan hidup

berupa tanaman maka harus dipilih tanaman yang pertumbuhannya cepat, kuat, berbatang lurus

dan pertumbuhannya tidak mengganggu tanaman utama. Beberapa jenis tanaman obat juga

membutuhkan tanaman pelindung untuk melindungi tanaman obat dari penyinaran matahari

secara langsung atau dari terpaan angin, maka sebaiknya tanaman pelindung telah disiapkan

beberapa waktu sebelum penanaman bibit ke lapangan.

Untuk tanaman obat yang dibudidayakan secara organik, di sekitar areal penanaman

sebaiknya ditanam tanaman perangkap seperti kenikir, serai, bunga matahari, dan mimba.

Tanaman tersebut ditanam untuk melindungi tanaman obat yang dibudidayakan dari serangan

hama.

Persiapan Bibit

Persiapan bahan tanam dapat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan persiapan dan

pengolahan lahan. Bahkan pada beberapa jenis tanaman obat-obatan dibutuhkan waktu lebih

lama untuk mempersiapkan bahan tanam karena pembibitan harus melalui beberapa tahapan.

Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara generatif yaitu dengan biji dan secara

vegetatif yaitu dengan cara stek, cangkok, okulasi, runduk, dan kultur jaringan. Sistem

perbanyakan tanaman yang akan digunakan tergantung dari jenis tanaman, keterampilan pekerja,

waktu yang dibutuhkan, dan biaya.

Tujuan pembibitan adalah untuk memperoleh bahan tanaman yang pertumbuhannya baik,

seragam, dan untuk mempersiapkan bahan tanam untuk penyulaman. Bila bibit tanaman yang

ditanam di lapangan merupakan bibit yang telah terseleksi maka diharapkan pertumbuhan dan

perkembangan tanaman pada masa vegetatif dan generatif akan lebih baik.

Perbanyakan Generatif

Beberapa jenis tanaman obat yang perbanyakannya dilakukan dengan menggunakan biji

adalah meniran, sambiloto, mahkota dewa, dan pala. Pembibitan tanaman obat ini dilakukan

dengan beberapa tahapan sebelum bibit siap untuk dipindahkan ke lahan.

Jumlah bibit yang harus disiapkan dihitung berdasarkan jumlah populasi tanaman yang

akan ditanam di lahan ditambah bahan tanaman untuk penyulaman untuk mengganti tanaman

yang mati atau pertumbuhannya kurang baik.

Biji tanaman yang sebaiknya diperoleh dari tanaman induk yang pertumbuhannya sehat.

Biji tersebut berasal dari buah yang benar-benar matang fisiologis, tidak cacat, tidak terdapat

bekas serangan hama dan penyakit. Pada beberapa jenis tanaman obat biji perlu dipisahkan dari

daging buah dengan cara tertentu sepertai pengupasan, pengeringan, dan perendaman. Sebaiknya

biji segera dikecambahkan agar daya kecambahnya tidak menurun.

Media pembibitan berupa campuran tanah topsoil yang subur dan pupuk kandang yang

matang dengan perbandingan 1 : 1. Sebaiknya media tanam ini diayak agar diperoleh agregat

yang halus. Campuran media kemudian dimasukkan dalam polibag atau bak persemaian, bagian

dasar wadah persemaian sebaiknya dibuat lubang agar sisa air penyiraman dapat keluar. Biji

tanaman dapat disemaikan pada media tanam tersebut.

Tempat persemaian biji terdiri dari bedengan persemaian dan sungkup persemaian.

Bedengan persemaian berfungsi untuk tempat meletakkan media semai, sedangkan sungkup

berfungsi untuk melindungi bibit dari pengaruh lingkungan yang kurang baik dan gangguan

hama. Bedengan persemaian dapat dibuat dengan lebar 1,5 m, panjang bedengan disesuaikan

dengan kondisi lahan dan populasi bibit, tinggi bedengan 30 cm, arah bedengan timur – barat.

Drainase pada bedengan pembibitan harus baik untuk menghindari tergenangnya air. Permukaan

bedengan harus gembur untuk menampung air sisa resapan dari media pembibitan. Polibegpolibeg

yang telah berisi benih tanaman dapat disusun pada bedengan dengan rapi. Sungkup

dapat dibuat dengan menggunakan kerangka dari bambu atau plat besi yang dibentuk setengah

lingkaran. Tinggi sungkup sekitar 80 cm. Kerangka sungkup ditutup dengan plastik transparan,

bagian pinggir sungkup dapat dibuka agar memudahkan penyiraman dan pemeliharaan bibit.

Pemeliharaan bibit dipersemaian meliputi penyiraman, pemupukan, penyiangan gulma,

dan pengendalian hama dan penyakit. Media tanam pada persemaian harus selalu dijaga

kelembaban, penyiraman sebaiknya dilakukan dua kali sehari pagi dan sore hari dengan

menggunakan gembor. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk daun atau

pupuk cair dengan cara menyemprot bibit atau menyiramkan pupuk pada media tanam.

Penyiangan gulma sebaiknya dilakukan secara intensif untuk menjaga agar tidak terjadid

kompetisi antara gulma dan tanaman utama, gulma juga dapat menjadi tanaman inang bagi

hama. Pengendalian hama dan penyakit sebaiknya dilakukan dengan menggunakan pestisida dan

fungisida nabati.

Beberapa hari sebelum bibit dipindahkan ke lapangan, sungkup plastik transparan dapat

dibuka secara bertahap agar bibit dapat beradaptasi dengan lingkungan terbuka. Selanjutnya bibit

dapat dipindahkan ke areal penanaman.

Beberapa jenis tanaman obat terutama tanaman obat tahunan ada yang harus dibibitkan

beberapa tahap, yaitu persemaian pada polibeg atau kotak perkecambahan, kemudian kecambah

dipindahkan ke polibeg kecil berdiameter 15 cm, setelah beberapa minggu bibit harus

dipindahkan ke polibeg yang lebih besar selama beberapa bulan sebelum dipindahkan ke

lapangan. Tetapi beberapa jenis tanaman obat tidak perlu melalui tahapan pembibitan, biji yang

telah dipilih dapat ditanam langsung pada bedengan yang telah disiapkan di areal penanaman.


Perbanyakan Vegetatif

Pebanyakan vegetatif bertujuan untuk mendapatkan bahan tanaman yang memiliki sifatsifat

yang sama dengan induknya dan mempercepat masa produksi tanaman. Perbanyakan

vegetatif juga memiliki beberapa kelemahan yaitu perakarannya lebih lemah sehingga tanaman

kurang kokoh dan umur tanaman relatif lebih pendek dibandingkan tanaman yang diperbanyak

dengan biji. 

1. Setek

Setek merupakan perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian tanaman (akar, batang, daun dan tunas) dengan tujuan agar bagian-bagian itu membentuk akar. Dengan dasar itu maka muncul istilah setek akar, setek cabang, setek daun, setek umbi, dan sebagainya. Setek batang diambil dengan cara memotong batang atau bagian pucuk tanaman induk dan selanjutnya ditanam di pembibitan. Tanaman obat yang diperbanyak dengan setek batang antara lain sirih, brotowali, dan lada. Batang dipotong miring atau datar sepanjang 10 – 30 cm, kemudian dicelupkan pada ZPT seperti AIA atau Rootone F untuk mempercepat pertumbuhan akar. Setek batang ditanam pada polibeg yang telah berisi media tanam, disiram air secukup dan diletakkan pada bedengan persemaian.

Setek rimpang (rhizome) dan stek akar juga cara perbanyakan yang sering dilakukan pada tanaman obat-obatan. Tanaman obat yang umumnya diperbanyak dengan setek rimpang adalah jenis temu-temuan (Zingirberaceae) seperti kunyit, jahe, temulawak, dan kencur, sedangkan tanaman daun dewa sering diperbanyak dengan setek akar. Rimpang atau akar dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Potongan rimpang ini dapat ditunaskan di persemaian dengan media jerami yang selalu dijaga kelembabannya selama 2 – 6 minggu. Rimpang yang telah bertunas dapat ditanam di lapangan. 

2. Cangkok

Beberapa jenis tanaman obat terutama jenis tanaman tahunan yang memiliki batang berkayu dapat diperbanyak dengan cara mencangkok seperti mahkota dewa, mawar, melati, dan kenanga. Sebelum mencangkok harus dipilih pohon induk yang telah pernah berbuah, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, kemudian dipilih salah satu cabang yang ukurannya sebesar kelingking atau pinsil, berkulit mulus dan berwarna coklat muda. Kemudian sekeliling kulit cabang disayat dengan pisau okulasi yang telah disterilkan sepanjang 2 – 3 cm, kemudian kambium dibersihkan sampai tidak terasa licin dan dikeringanginkan selama 2 – 4 hari. Luka sayatan kemudian dibungkus dengan plastik yang diikat pada bagian atas dan bawah sayatan, ke dalam plastik pembungkus dimasukkan media berupa campuran tanah topsoil dan kompos dengan perbandingan 1 : 1, kemudian cangkokan disiram air secukupnya, kelembaban media harus dijaga. Akar akan tumbuh setelah 1 – 3 bulan. Sebelum dipindah ke lapangan batang dipotong tepat di bawah pembungkus cangkokan untuk memisahkannya dari pohon induk. 

3. Okulasi

Cara perbanyakan tanaman dengan okulasi mempunyai kelebihan jika dibanding dengan setek dan cangkok karena bibit okulasi mempunyai mutu lebih baik dari induknya yaitu dengan memadukan sifat baik dari batang bawah dan mata entres. Untuk mengokulasi harus disediakan batang bawah yaitu pohon pangkal tempat menempelkan mata tunas. Batang bawah dapat diperoleh dari biji yang disemaikan. Mata entres dapat diambil mata tunas dari pohon yang telah dipilih. Kulit batang bawah diiris bentuk huruf T dengan menggunakan pisau okulasi. Mata tunas yang akan diokulasi diambil dengan cara mengiris secara horizontal 1,5 cm di atas dan bawah mata, kemudian diiris sehingga membentuk segiempat. Kemudian mata tunas diisipkan pada irisan batang bawah, lalu tempelan diikat dengan pita plastik dari bawah ke arah atas. Setelah 2 minggu, okulasi dapat dibuka, jika mata tempelan masih hijau segar dan sudah melekat dengan batang berarti okulasi berhasil. Sebelum dipindahkan ke lapangan batang bawah dipotong kira kira 1 cm dari pertautan okulasi. Cara okulasi biasanya dilakukan untuk memperbanyak tanaman obat tahunan sepertipala, kayu manis dan mawar. 

4. Tunas

Perbanyakan dengan tunas banyak dilakukan untuk tanaman berumpun seperti kapulaga. Dari tunas yang ditanam kemudian akan tumbuh menjadi rumpun besar. Selanjutnya rumpun tersebut akan berbiak dan menghasilkan tunas-tunas baru.


Penanaman

Bibit yang akan ditanam di areal budidaya tanaman obat adalah bibit yang sudah diseleksi yaitu bibit yang sehat dan pertumbuhannya baik. Bibit yang disemaikan dengan menggunakan polibag dipindahkan ke lubang tanam dengan cara menyobek satu sisi polibeg, kemudian bibit dimasukkan ke lubang tanam yang telah disiapkan. Harus diusahakan agar media tanam yang melekat pada bibit tidak terpisah. Selanjutnya tanah galian lubang tanam dimasukkan kembali dan dipadatkan agar bibit dapat tumbuh dengan kokoh. Bibit yang baru ditanam disiram dengan air secukupnya. Sebaiknya pemindahan bibit ke lapangan dilakukan

pada pagi atau sore hari.


Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman meliputi kegiatan pemupukan, penyiraman, penyiangan dan pembumbunan, serta pengendalian hama dan penyakit.

1. Pemupukan

Pupuk yang diberikan pada tanaman obat dapat berupa pupuk organik maupun anorganik.

Sebaiknya pupuk yang digunakan dalam budidaya tanaman obat adalah pupuk organik,

penggunaan pupuk anorganik dikhawatirkan dapat menimbulkan pengaruh yang kurang baik

bagi kandungan/senyawa-senyawa berkhasiat obat yang ada pada tanaman. Pupuk organik yang

dapat digunakan adalah berbagai jenis pupuk kandang dan kompos, yang harus diperhatikan

pupuk organik yang digunakan harus benar-benar matang dan tidak mengandung bahan

pencemar. Pupuk organik dapat diberikan dengan cara mencampurkannya pada lubang tanam

pada saat penanaman atau mencampurkannya pada tanah di antara barisan tanaman atau areal di

bawah tajuk tanaman.

Apabila menggunakan pupuk anorganik dapat diberikan dalam tiga tahap. Pertama,

pupuk diberikan sebagai pupuk dasar pertama yang berupa pupuk organik dan pupuk fosfat yaitu

pada saat pengolahan tanah dengan cara dicampur rata dengan tanah, baik di dalam lubang

tanam, alur tanam, dan di permukaan bedengan. Kedua, pupuk diberikan sebagai pupuk dasar

kedua berupa urea, TSP, KCl yang diberikan sebelum benih ditanam atau bersamaan pada saat

penanaman. Ketiga, pupuk tambahan berupa pupuk anorganik yang diberikan sebagai pupuk

susulan. Dosis pupuk disesuaikan dengan jenis dan kondisi tanaman. Pupuk sebaiknya diberikan

pada awal atau akhir musim hujan dan pada pagi atau sore hari.

2. Penyiraman

Pada awal penanaman dan musim kemarau penyiraman harus dilakukan dengan teratur.

Kelembaban tanah harus selalu dijaga, sebaiknya penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu

pagi dan sore hari. Pada musim hujan frekuensi penyiraman dapat dikurangi tergantung kondisi

kelembaban tanah.

Apabila tanaman obat dibudidayakan pada lahan yang tidak terlalu luas, pekarangan

rumah atau di dalam pot maka penyiraman dapat menggunakan gembor. Tetapi apabila tanaman

obat dibudidayakan dalam skala luas sebaiknya menggunakan sprinkle untuk membantu

penyiramannya. Sarana irigasi dan sistem pengairan lain juga dapat dimanfaatkan untuk mengairi

lahan.

Selain pengairan, sistem pembuangan air yang berlebih juga harus diperhatikan. Harus

diusahakan agar lahan tidak tergenang. Beberapa jenis tanaman obat sangat rentan terhadap

penggenangan air.

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk menjaga kelembaban tanah adalah dengan

menggunakan mulsa. Berbagai jenis mulsa dapat dimanfaatkan seperti mulsa jerami, mulsa

plastik hitam perak dan mulsa plastik hitam. Masing-masing jenis mulsa memiliki keunggulan

dan kelemahan, sebaiknya penggunaannya disesuaikan dengan jenis tanaman obat yang

dibudidayakan dan kondisi lingkungan.

3. Penyiangan dan Pembumbunan

Penyiangan gulma harus dilakukan secara intensif untuk menghindarkan kompetisi antara

gulma dengan tanaman obat yang dibudidayakan, yaitu persaingan dalam penyerapan unsur hara

dan air, penerimaan cahaya matahari, dan gulma juga dapat menjadi tanaman inang bagi hama

yang dapat menyerang tanaman obat yang dibudidayakan. Penurunan produksi akibat gulma

cukup besar bisa lebih dari 50%.

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain secara manual

yaitu dengan menggunakan cangkul, arit atau koret, secara kultur teknis yaitu dengan mengatur

jarak tanam dan penggunaan mulsa, secara kimia yaitu dengan penggunaan herbisida. Pada

budidaya tanaman obat hendaknya penggunaan herbisida merupakan alternatif terakhir karena

dikhawatirkan residu herbisida terserap oleh tanaman sehingga berpengaruh terhadap senyawasenyawa

berkhasiat obat yang terdapat pada tanaman.

Pembumbunan dapat dilaksanakan bersamaan dengan penyiangan gulma. Pembumbunan

bertujuan untuk memperkokoh tanaman, menutup bagian tanaman di dalam tanah seperti

rimpang atau umbi, memperbaiki aerase dan menggemburkan tanah sekitar perakaran, dan

mendekatkan unsur hara dari tanah di sekitar tanaman. Pembumbunan dapat dilakukan dengan

menggunakan cangkul atau koret.

4. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalianm hama dan penyakit dapat dilakukan secara mekanis, kultur teknis, dan

kimia. Pengendalian secara mekanis adalah dengan cara menangkap hama yang menyerang

tanaman atau membuang bagian tanaman yang terserang hama atau penyakit. Pengendalian

secara kultur teknis antara dengan pengaturan kelembaban udara, pengaturan pelindung dan

intensitas sinar matahari. Pengendalian secara kimia dengan menggunakan insektisida dan

fungsida. Sebaiknya penggunaan insektisida dan fungisida pada budidaya tanaman obat

dihindari, dikhawatirkan residu bahan kimia tersebut dapat mempengaruhi senyawa-senyawa

berkhasiat obat pada tanaman. Apabila dibutuhkan dapat digunakan insektisida dan fungisida

nabati.

Beberapa ramuan pestisida nabati yang dapat digunakan antara lain :

• Daun mimba 8 kg, daun lengkuas 6 kg, daun serai 6 kg. Bahan-bahan ini

dihaluskan kemudian diaduk dalam 20 liter air dan direndam selama 24 jam. Keesokan harinya

larutan disaring dengan kain halus. Larutan hasil penyaringan

diencerkan dengan 60 liter air sambil dicampur 20 g detergen dan dapat digunakan untuk

menyemprot lahan seluas 1 hektar (Kardinan, 2000 dalam Novizan, 2002).

• Daun mimba (Azadiractha indica), tembakau (Nicotiana tabacum), dan akar tuba

(Derris eclipta). Semua bahan ditumbuk sampai halus, kemudian direndam dalam air. Setedlah

tercampur rata, ramuan dibiarkan selama satu malam. Keesokan harinya, ramuan disaring dan

dilarutkan dalam air hangat. Sebagai perekat ditambahkan detergen 1 g per 10 liter (Mahendra,

2005).

Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan

dalam pengendalian hama antara lain adalah :

Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin dan insektisida kontak sebagai

fumigant atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnnya aphids.

Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretin yang dapat

digunakan sebai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat. Aplikasi pada serangga

lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.

Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk

insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.

Mimba (Azadiractha indica) yang mengandung azadirachtin yang bekerja cukup selektif.

Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah

seperti hama penggulung daun (Chaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk

menanggulangi serangan virus RSV, GSV, dan tungro.

Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.

Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

Beberapa fungisida dan bakterisida nabati :

Limbah daun tembakau sebanyak 200 g dihancurkan atau diiris menjadi serpihan kecil.

Serpihan limbah daun tembakau ini dibenamkan di darah perakaran . Nikotin yang dikandung

oleh limbah tembakau dapat diserap oleh tanaman untuk mengendalikan penyakit yang 
disebabkan jamur dan bakteri (Novizan, 2002).

Air perasan 300 g daun sirih dicampur dengan 1 liter air mampu mengendalikan jamur Phythophtora palmivora penyebab penyakit busuk pangkal batang yang menyerang tanaman lada (Novizan, 2002).

Tidak ada komentar:

Search

Memuat...

Posting Populer

Total Tayangan Halaman

Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all