Senin, 11 Oktober 2010

PASCA PANEN PISANG ( Musa Paradisiaca, Linn )


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pisang merupakan buah yang dikenal paling awal sebagai bahan makanan yang dapat dikonsumsi segar maupun diolah lebih lanjut, mengenyangkan dan dapat dinikmati oleh bayi sampai manula. Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan tradisional Indonesia.

Potensi buah pisang sebagai sumber pangan, dengan mengambil sudut peninjauan dari aspek penanganan pascapanen dan teknik pengolahan yang bisa dilakukan masyarakat dalam upaya menganekaragamkan sumber pangan kita atau sebagai usaha bisnis rumahan melalui pengolahan. Dengan memandang buah pisang sebagai sumber pangan, maka penanganan di sentra produksi pisang tidak hanya sekedar ‘tebang dan jual’ tetapi berkembang menjadi sentra industri yang mengolah buah pisang menjadi tepung pisang sebagai bahan baku industri, dan aneka produk olahan pisang lainnya.         

Peluang pengembangan agribisnis komoditas pisang masih terbuka luas. Untuk keberhasilan usahatani pisang, selain penerapan teknologi, penggunaan varietas unggul dan perbaikan varietas harus dilaksanakan. Varietas unggul yang dimaksud adalah varietas yang toleran atau tahan terhadap hama dan penyakit penting pisang, mampu berproduksi tinggi serta mempunyai kualitas buah yang bagus dan disukai masyarakat luas.

Di Indonesia, pisang menduduki tempat pertama diantara jenis buah-buahan lainnya baik dari segi sebaran, luas pertanamannya maupun dari segi produksinya. Total produksi pisang Indonesia tahun 2006 sekitar 5.037.472 ton dan Lampung menyumbang 535.732 ton, atau 10,6% dari produksi pisang nasional.  Masyarakat dapat menerapkan cara penanganan buah dengan baik dan menggunakannya sebagai bahan baku produk olahan, sekaligus sebagai buah meja untuk memenuhi vitamin dan mineral. Dengan sentuhan teknologi, aneka produk dari buah pisang dapat disajikan dengan cepat dan mudah serta dapat menjadi usaha yang menguntungkan.

Rumusan Masalah
a.      Apa saja jenis-jenis pisang yang di konsumsi masyarakat ?
b.      Bagaimana panen dan pasca panen pada tanaman pisang ?
c.       Bagaimana proses penyeratan pada tanaman pisang?

Tujuan
a.      Mengetahui jenis-jenis pisang yang di konsumsi masyarakat .
b.      Mengetahui panen dan pasca panen pada tanaman pisang .
c.       Mengetahui proses penyeratan pada tanaman pisang.

PEMBAHASAN
Jenis-jenis Pisang yang yang dikonsumsi
1. Pisang Ambon Kuning
Pisang Ambon Kuning cocok untuk hidangan buah segar, memiliki ukuran buah lebih besar daripada pisang ambon lainnya dengan kulit buah tidak terlalu tebal dengan warna kuning muda.  Daging buah yang sudah matang berwarna putih kemerahan.  Rasa daging buah pulen, manis, dan aromanya harum.  Dalam satu  tandan terdapat 6-9 sisir (satu sisir berisi 15-20 buah) dengan berat per tandan 18-20 kg.

2. Pisang Ambon Lumut
Pisang Ambon Lumut cocok untuk hidangan buah segar.  Kulit buah berwarna hijau walaupun sudah matang dan lebih tebal daripada kulit buah pisang ambon kuning.  Daging buah hampir sama dengan pisang ambon kuning hanya sedikit lebih putih.  Daging buah agak keras, aroma lebih harum dan rasanya lebih manis.  Dalam satu tandan terdapat 7-12 sisir dengan berat 15 – 18 kg.

3. Pisang Ambon Putih
Pisang Ambon Putih cocok untuk hidangan buah segar.  Ukuran buah lebih besar daripada pisang ambon lumut. Kulit buah yang sudah matang berwarna kuning keputih-putihan.  Daging buah berwarna puith kekuningan dengan rasa agak asam, dan beraroma harum.  Dalam satu tandan terdapat 10-14 sisir dengan berat 15-25 kg.

4. Pisang Barangan
Pisang Barangan cocok untuk hidangan buah segar.  Pisang Barangan terdiri dari 2 jenis, yaitu pisang barang yang berwarna kemerah-merahan dan yang berwarna kuning.  Pisang Barangan yang berwarna kemerah-merahan memiliki daging buah yang lebih besar dan rasa yang lebih enak dan aroma yang lebih harum daripada yang berwarna kuning.  Dalam satu tandan terdapat 5-12 sisir degang berat 9-20 kg.

5. Pisang Raja 
Pisang Raja cocok untuk hidangan buah segar maupun olahan.  Kulit buah tebal dan berwarna kuning berbintik hitam pada buah yang telah masak.  Ukuran buah cukup besar dengan diameter 3,2 cm dan panjang 12-18 cm.  Daging buah yang telah matang berwarna kuning kemerahan bila dimakan terasa legit dan manis dengan aroma harum.  Dalam satu tandan  terdapat 6-9 sisir (setiap sisir berisi 14-16 buah) dengan berat per tandan 12-16 kg.  Bunga muncul 14 bulan sejak anakan dan buah akan masak 5,5 bulan kemudian.

6. Pisang Kepok
Pisang Kepok cocok untuk makanan olahan.  Jenis pisang kepok yang lebih dikenal adalah pisang kepok putih dan pisang kepok kuning dengan warna daging buah sama seperti namanya.  Daging buah bertekstur agak keras dengan aroma yag kurang harum. Kulit buah sangat tebal dan berwarna hiaju kekuningan pada buah yang telah masak. Pisang kepok kuning rasanya lebih enak daripada pisang kepok putih.  Dalam satu tandan dapat mencapai 10-16 sisir (satu sisir berisi 20 buah pisang) dengan berat per tandan 14-22 kg.

7. Pisang Tanduk
Pisang Tanduk cocok untuk makanan olahan. Buahnya berukuran besar dengan panjang lebih dari 20 cm.  Kulit buah tebal dan berwarna kuning kemerahan berbintik hitam.  Daging buah yang sudah matang berwarna putih kemerahan.  Dalam satu tandan terdapat hanya sekitar 1-3 sisir (satu sisir terdiri dari 10-15 buah) dengan berat per tandan 7-10 kg.

8. Pisang Badak
Kulit buah agak tebal, berwarna kuning berbintik hitam.  Daging buah berwarna puith kekuningan.  Rasa buah manis agak asam dengan aroma kurang harum.  Dalam satu tandan terdapat 7-9 sisir dengan berat per tandan mencapai 14 – 18 kg.

9. Pisang Nangka
Pisang Nangka cocok untuk makanan olahan.  Buah berukuran agak panjang, sekitar 15 cm.  Kulit buah agak tebal dan berwarna hijau walaupun sudah matang (buah yang sangat masak berwarna hijau kekuningan).  Daging buah berwarna kuning kemerahan dengan rasa manis agak asam dan beraroma harum.  Dalam satu tandan terdapat 7-8 sisir dengan berat tandan 11-14 kg.

10. Pisang Mas
Pisang Mas cocok untuk hidangan buah segar.  Buah berukuran kecil-kecil dengan diameter 3-4 cm.  Kulit buah tipis dengan warna kuning cerah pada buah yang masak.  Daging buah lunak, rasanya sangat manis dan aromanya harum.  Dalam satu tandan terdapat 5-9 sisir (satu sisir dapat mencapai 18 buah) dengan berat per tandan 8-12 kg.

11. Pisang Susu
Pisang Susu cocok untuk hidangan buah segar.  Ukuran buah kecil hampir sama dengan pisang mas.  Kulit buah tipis, berwarna kuning berbintik hitam.  Daging buah putih kekuningan.  Rasa buah manis, lunak dan berarom harum.  Dalam satu tandan terdapat sekitar 8 sisir (satu sisir berisi 12-16 buah) dengan bertat per tandan 12-16 kg.

12. Pisang Cavendish
Pisang Cavendish cocok untuk hidangan buah segar.  Dari 36 subkultivar pisang cavendish hanya beberapa subkultivar yang telah diusahakan sebagai tanaman perkebunan, yaitu:

Grain Naine, berasal dari Perancis.  Bentuk buah silindris dari atas ke bawah membentuk kerucut.  Setiap tandap terdiri dari 12 sisir(satu sisir terdiri dari 24-36 buah)  dengan bobot 45-65 kg.  Jarak antar sisir cukup longgar sehingga jumlah buah yang salah bentuk tidak banyak.

Petit Naine, berasal dari Perancis.  Buah berukuran kecil dan cukup ringan.  Rasanya kurang manis.  Jarak antar sisir cukup dekat sehingga banyak buah yang salah bentuk.

Omalag, berasal dari Filipina.  Buah di tandan bagian atas berukuran relatif besar selanjutnya makin ke bawah makin mengecil.  Jarak antar sisir berdekatan.

William, berasal dari Australia.  Dibedakan menjadi dua, yaitu william tall dan william small.  Ukuran buah relatif seragam dengan kulit buah tipis berwarna kuning kehijauan ketika matang.  Jarak antar sisir cukup jauh.  Bobot buah per tandan 35-50 kg.

Valery, berasal dari Amerika Tengah.  Bentuk buah cukup bagus karena jarak antar sisir relatif jauh.  Setiap tandan terdiri dari 14-20 sisir dengan bobot per tandan 35-50 kg.

Panen dan Pasca Panen
1.      Umur dan waktu panen
Buah pisang yang akan dipanen disesuaikan dengan tujuannya. Untuk tujuan konsumsi lokal atau keluarga, panen dilakukan setelah buah tua atau bahkan sudah ada yang masak di pohon. Sedangkan untuk ekspor, pisang dipanen tidak terlalu tua (derajat ketuaan 75-85%)), tetapi sudah masak fisiologis (kadar patinya sudah maksimum). Pada keadaan ini kualitas buah cukup baik dan mempunyai daya simpan cukup lama.

Waktu panen buah pisang dapat dilakukan dengan 2 cara  yaitu dengan menghitung jumlah hari dari bunga mekar sampai siap dipanen atau dengan melihat bentuk buah. Buah yang tua biasanya sudut buah tumpul dan membulat, daun bendera mulai mengering, bekas putik bunga mudah patah.

2.      Cara Panen
Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih waktu memotong tandan.  Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah. Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan oleh pergesekan buah dengan tanah.

Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali. Jika tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas.

3.      Periode Panen
Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.

Kriteria kematangan pisang :

Tingkat
Kematangan
Warna Kulit
Buah
Pati
( % )
Gula
( % )
Keterangan
1
Hijau
20
0,5
Keras
2
Hijau Mulai Kuning
18
2,5
-
3
Hijau lebih banyak dari Kuning
16
4,5
-
4
Kuning lebih banyak dari Hijau
13
7,5
-
5
Kuning lebih banyak namun ujung buah masih hijau
7
13,5
-
6
Seluruhnya kuning
2,5
18,0
Mudah dikupas
7
Kuning sedikit   bintik coklat
1,5
19,0
Masak penuh aroma
8
Kuning dengan banyak bintik coklat
1,0
19,0
Lewat masak, daging buah gelap, aroma tinggi sekali
Sumber: Murtiningsih, dkk. (1990).

4.      Penanganan Pasca Panen:
1.      Pemotongan sisir pisang dari tandannya
2.      Pencucian sisir dari kotoran dan getah serta dilakukan seleksi buah
3.      Pencucian sisir pisang yang sudah terseleksi dalam air bersih mengalir
4.      Penyusunan sisir pada rak terbuka lalu dikeringanginkan dengan mengalirkan udara kering pada sisir-sisir pisang tersebut
5.      Pengemasan sisir pisang pada kotak karton per 15 kg (3-5 sisir ukuran besar atau 6-9 sisir ukuran kecil)
6.      Penyemprotan fungisida Al2(SO4)3 (120 ml/15 kg pisang)
7.      Pengepakan pada container

Secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk mengurangi penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan kendaraan terbuka/tertutup. Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan dari tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka potongan di ujung sisir buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.

Standar Mutu Pisang berdasarkan RSNI-2005
1.      Utuh
2.      Kenyal
3.      Segar, tidak busuk atau rusak
4.      Bersih, bebas dari benda-benda asing yang berpengaruh terhadap kaulitas buah 5. Bebas memar akibat tergores atau terbentur
5.      Bebas dari hama dan/atau penyakit yang mempengaruhi  penampilan umum buah
6.      Bila dalam bentuk sisiran, tidak ada buah dempet dan  bebas dari cendawan dan kering
7.      Pistil (bekas putik bunga) sudah lepas
8.      Bentuk buah sempurna sesuai dengan karakter jenis buah
9.      Bebas dari kerusakan akibat temperature rendah
10. Bebas dari kerusakan akibat kelembaban
11.  Bebas dari aroma dan rasa asing 

Buah pisang selain banyak dikonsumsi sebagai buah  meja, juga dapat dibuat berbagai produk olahan seperti, tepung bayi, sale, keripik, jam, tape, konsentrat dan lain-lain. Jenis pisang yang banyak digunakan untuk produk olahan adalah pisang janten, kepok, tanduk, nangka, siem dan lain - lain. Contohnya keripik pisang yang hasil olahan dari lampung.





5.      Pengemasan

Untuk pisang tropis, kardus karton yang digunakan berukuran 18 kg atau 12 kg. Kardus dapat dibagi menjadi dua ruang atau dibiarkan tanpa pembagian ruang. Sebelum pisang dimasukkan, alasi/lapisi bagian bawah dan sisi dalam kardus dengan  lembaran plastik/kantung plastik. Setelah pisang disusun tutup pisang dengan plastik tersebut. Dapat saja kelompok (cluster) pisang  dibungkus dengan plastik lembaran/kantung plastik sebelum dimasukkan ke dalam kardus karton.

Pada bagian luar dari kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain:
a) Produksi Indonesia
b) Nama kultivar pisang
 c) Nama perusahaan/ekspotir
d) Berat bersih
 e) Berat kotor
f) Identitas pembeli
g) Tanggal panen
 h) Saran suhu penyimpanan/pengangkutan

6.      Manfaat Produksi
Usaha pemberdayaan terhadap hasil yang akan di konsumsi sesuai dengan kegunaan dan manfaat produksi yang di hasilkan antara lain :
Daun
Bahan kertas tissue, Daun pisang abaca di buat pupuk kompos.
Batang (pelepah)
Kertas mata uang (misal Yen, Dollar AS, dll) , Bahan tekstil, Gordyn, kain jok, Tali kapal, Pembungkus kabel, Popok bayi, Pembalut wanita,Bahan pembungkus (kantung) tea cup, Disposable napkin(tissue pada toilet)
Pelepah dalam
Pelepah dalam pisang abaca di buat pupuk kompos

3.3 Penyeratan
Teknis penebangan hendaknya dilakukan dengan pisau tajam, untuk menjaga agar tunggul lekas kering. Setelah di tebang pelepah dilepaskan. Kualitas serat pisang abaca ditentukan oleh letak pelepah pada batang semu. Pelepah paling luar seratnya kasar, tetapi seratnya kuat. Makin ke dalam makin serat tersebut makin halus, warnanya makin putih tetapi kekuatan makin berkurang.
Proses Perkebunan Serat  :
a.      Pemotongan batang di bagi tiga bagian untuk memudahkan perseratan panjang potongan batang  1,20 .Masing-masing potongan dibagi 3 tegak untuk mempermudah pengupasan.
Penyeratan dilakukan pada saat pelepah pisang dalam keadaan basah agar lebih mudah di serat
Lembaran-lembaran pelepah kemudian disisir sampai menjadi serat yang masih basah, kemudian serat dicuci sebelum di keringkan (di jemur)
Serat siap di pasarkan di bentuk bantalan serat umumnya dengan berat 125 Kg.

Sedang pengambilan serat dapat di lakukan oleh petani plasma atau oleh perusahaan inti. Pengambilan serat pisang abaca yang dilakukan oleh petani plasma dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu secara manual dan menggunakan dekortikator semi otomatis. Untuk pengambilan serat oleh perusahaan inti, dilakukan secara lebih modern dalam bentuk suatu pabrik. Adapun perkerjaan pengambilan serat oleh petani plasma di uraikan sebagai berikut :
Penyeratan dengan tangan
a.1. Penyeratan Dengan Pisau
Prinsip kerja pengambilan serat pisang abaca dengan cara ini adalah menghancurkan daging pelepah yang terbawa pada tuxies

Tahap pertama adalah menyayat pelepah-pelepah secara membujur selebar 5 x  7,5 cm. Setelah itu lapisan kulit yang mengandung serat di pisahkan dari bagian dalam (yang tidak mengandung serat). Sayatan yang mengandung serat ini dinamakan Tuxies.

Pengambilan serat secara manual ini hanya memerlukan peralatan yang sederhana seperti pisau penyerat dan meja. Pisau penyerat di buat bergigi kecil tetapi tidak tajam, dengan ukuran gigi sekitar 15 gigi per cm dan lebar ujung pisau 10 cm.

Dengan alat ini tuxies di letakkan di atas meja, dimana sisi luar menghadap atas. Setelah itu pisau penyerat di tekan oleh satu tangan, sedangkan ujung tuxies di tarik secara konstan, sehingga seratnya terpisah dari daging pelepah. Semakin keras penekanan pisau penyerat, maka semakin bersih serat yang dihasilkan. Dengan cara ini setiap orang (petani plasma) akan mampu menghasilkan sebanyak 10 x 12 kg per hari.
a.2. Penyeratan Dengan Alat Klem

Cara lain yang lebih praktis adalah dengan menggunakan alat sederhana yang bekerja seperti alat klem. Dengan alat ini kemungkinan serat putus sebagaimana terjadi pada alat pisau dapat dperkecil. Adapun alat yang diperlukan adalah Klem yang memiliki pisau bergerigi yang diletakkan di atas meja.

Tuxies di masukkan di bawah pisau penyerat, kemudian pisau di tekan dengan memutar skrup diatasnya. Setelah tuxies tertekan kemudian bagian ujungnya di tarik oelh tangan sehingga serat terpisah. Dengan cara ini, berat tekanan pisau dapat diatur, sehingga rendemen serat dapat di kontrol dan mutu serat dapat lebih seragam.

Penyeratan dengan Dekorikator
Mesin dikorikator terdiri dari 2 buah drum dengan mata pisau penyerat dari besi tahan karat. Drum tersebut berputar dengan menggunakan tenaga dari motor berkekuatan sekitar 100 PK. Kapasitas penyeratan dari suatu mesin ini adalah sekitar 180 kg serat per jam atau sekitar 6 ton bahan tanaman segar.

PENUTUP
Kesimpulan
Ø  Buah pisang selain banyak dikonsumsi sebagai buah  meja, juga dapat dibuat berbagai produk olahan seperti, tepung bayi, sale, keripik, jam, tape, konsentrat dan juga makanan kemasan lainnya.
Ø  Penanganan pasca panen pisang yang benar dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas mutu tanaman pisang.Pda penyeratan pada tanaman pisang menghasilkan barang barang industry.
Ø  Waktu panen buah pisang dapat dilakukan dengan 2 cara  yaitu dengan menghitung jumlah hari dari bunga mekar sampai siap dipanen atau dengan melihat bentuk buah.

 Saran
Ø  Sebaiknya dilakukan penanganan khusus dalam sebelum dan setelah panen tanaman pisang
Ø  Perlakuan budidaya yang benar dapat meningkatkan harga jual pisang

DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Pisang (2005-2010). Departemen Pertanian. 36 hal.

Hendro Soenarjono. 1998. Teknik Memanen Buah Pisang agar Berkualitas Baik.

Rismunandar. 1990. Bertanam Pisang. C.V. Sinar Baru. Bandung

Tidak ada komentar:

Search

Memuat...

Posting Populer

Total Tayangan Halaman

Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all